Sambil mengatur nafas, dia berbaring dan menatap langit-langit ruangan apartemennya itu. Hatinya terus berseru gelisah: Dimana
gua bisa dapetin buku itu? Kalo gini skripsi gua bakal molor lagi,
hah!! Nanti kena omelan dosen lagi kalo gini..bête..bete.
Tet..tet…tet…
Bunyi
bel itu membuatnya terbangun dari lamunannya. Dia menyeret kaki lemas
nya dengan malas menghampiri daun pintu, membuka nya sedikit dan
mengintip siapa yang ada di baliknya. Dia tersontak kaget seperti
melihat hantu, lalu mematung, rahangnya mengeras tak membalas senyuman
orang dibalik pintu itu.
“Boleh masuk kan?” pria itu berkata.
“Oke” Jawab perempuan itu dingin.
Dia
membuka pintunya lebih lebar, lalu berjalan menuju dapur memunggungi
tamunya tersebut. Pria itu melonggarkan ikatan dasinya terlihat
kepanasan. kipas angin di apartemen tua itu tak cukup berpengaruh
merekayasa udara panas di ruangan itu. Tak lebih dari 2 menit, perempuan
itu kembali berjalan menuju sofa, menyodorkan kaleng soda dingin pada
tamunya itu.
“Makasih” pria itu tersenyum lagi.
“Dari siapa kamu tau aku disini?”
“Aku liat kamu keluar dari gerbang kampus, lalu ku buntuti deh sampai disini.” Pria itu nyengir
Perempuan itu mendesis sebal “Sebenarnya mau kamu apa sih?!”
“Aku mau kita balikan” Pria itu berkata enteng lalu menikmati soda dinginnya.
Perempuan
itu langsung menarik nafas dalam, muak mendengar kata “Balikan”. Sudah
yang kedua kalinya tempat persembunyianya terbongkar, dan ini sudah ke
empat kalinya pria itu mengajaknya balikan. Perempuan itu benar-benar
muak, harus kemana lagi dia bersembunyi, menenangkan diri agar fokus
pada tugas akhirnya. Mengapa pria ini terus mengejarnya.
“Sudahlah, aku gak mau diganggu” Perempuan itu beranjak dari sofa.
“Aku kangen kamu!” Pria itu meraih tangan perempuan itu.
Perempuan
itu pun sama, tiap detik, tiap oksigen yang di hirupnya rasa kangen itu
selalu marasuk bersamaan dengan angin kedalam pori-pori, mengisi luka
menganga dalam dada, luka akibat kehilangan rasa percaya terhadap pria
itu.
Perempuan itu mengibaskan tangannya, kini mereka berdiri berhadapan “Please, aku pengen fokus ngerjain skripsiku!!”
“Selamanya kamu ga akan pernah fokus, karena yang ada dalam pikiran kamu cuma aku kan?!”
Benar
apa yang dikatakan pria itu, dirinya tidak pernah bisa fokus, gemuruh
dalam hatinya tak pernah padam menguasai pikirannya, bayangan kenangan
bersama pria itu tidak pernah absen mengganggu konsentrasinya, bahkan
menghantui dalam tidurnya. Semua itu bermuara dari rasa curiga dan
kecewa yang hebat akibat kilometer jarak antara mereka membuat
keparcayaan pada pria itu semakin krisis dan menipis dan prasangka
mengusainya seperti iblis.
Kini pikiran nya di penuhi pertanyaan: Apakah benar desas desus perselingkuhan itu hanya imajinasinya semata?
“Hari
ini, aku pindah ke kota ini, demi kamu. Aku tinggalkan semua karirku
disana dan akan memulainya dari awal disini. Supaya kamu percaya” pria
itu menatap matanya dalam.
Perempuan
itu menangis, pertahanan nya jebol, pria itu merengkuh nya, meraihnya
ke dalam pelukannya, sekujur badannya perempuan itu gemetar,bahu kemeja
pria itu basah karena air mata.
Pria
itu mengeratkan rengkuhanya, perempuan itupun melunak, tenggelam dalam
pelukan pria yang sangat dicintainya itu. Mereka merasakan panas tubuh
masing-masing, membuat suasana beku itu pun mencair dan menguap bersama
prasangka yang ada.
“Maafin
aku ya” pria itu melepaskan pelukannya, menempelkan keningnya ke kening
perempuan itu. “Pulanglah kerumah, ibu mu pasti khawatir, jangan
tinggal di apartemen butut ini lagi” lalu pria itu mengecup kening
perempuan itu.
∞∞∞
Pria
berkemeja abu-abu itu pun keluar dari apartemen, lalu berjalan menuju
parkiran sambil mengencangkan ikatan dasi di lehernya. Smartphone pria
itu pun berbunyi. Ada panggilan masuk.
“Halo..” pria itu mengangkat teleponya
“Iya tante, saya sudah ketemu sama dia, dan saya sudah tau di mana dia tinggal, dan saya akan membawanya pulang kerumah besok”
Pria itu berhenti berbicara dan hanya mengangguk-anggunk mendengarkan orang yang disebrang itu bericara.
“Baik, saya tunggu imbalan yang sudah tante janjikan” pria itu nyengir kegirangan dan menutup telepon nya.
Lalu pria itu mengetik pesan singkat ke salah satu nomer kontak yang ada di handphone-nya
“Sayang,
mungkin utk beberapa waktu kita gak bisa ketemu dulu, sampai skripsi
dia beres, semoga kmu ngerti, ini demi masa depan kita. I miss u and
love u always”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar