Kamis, 05 Juni 2014

Balikan

Perempuan itu  buru-buru menyalakan kipas angin lalu menjatuhkan dirinya ke sofa, kaki nya lemas, wajahnya memerah karena tersengat matahari, Cuaca di luar memang panasnya keterlaluan membuat suasana gerah, bahkan hatinya pun ikut gerah, karena selama tiga jam mondar-mandir di perpustakaan kampus, menyusuri semua rak, tapi tak ia temukan buku referensi itu, sampai akhirnya menyerah dan kembali ke apartemen nya.
Sambil mengatur nafas, dia berbaring dan menatap langit-langit ruangan apartemennya itu. Hatinya terus berseru gelisah:  Dimana gua bisa dapetin buku itu? Kalo gini skripsi gua bakal molor lagi, hah!! Nanti kena omelan dosen lagi kalo gini..bête..bete.
Tet..tet…tet…
Bunyi bel itu membuatnya terbangun dari lamunannya. Dia menyeret kaki lemas nya dengan malas menghampiri daun pintu, membuka nya sedikit dan mengintip siapa yang ada di baliknya. Dia tersontak kaget seperti melihat hantu, lalu mematung, rahangnya mengeras tak membalas senyuman orang dibalik pintu itu.


“Boleh masuk kan?” pria itu berkata.
“Oke” Jawab perempuan itu dingin.
Dia membuka pintunya lebih lebar, lalu berjalan menuju dapur memunggungi tamunya tersebut. Pria itu melonggarkan ikatan dasinya terlihat kepanasan. kipas angin di apartemen tua itu tak cukup berpengaruh merekayasa udara panas di ruangan itu. Tak lebih dari 2 menit, perempuan itu kembali berjalan menuju sofa, menyodorkan kaleng soda dingin pada tamunya itu.

“Makasih” pria itu tersenyum lagi.
“Dari siapa kamu tau aku disini?”
“Aku liat kamu keluar dari gerbang kampus, lalu ku buntuti deh sampai disini.” Pria itu nyengir
Perempuan itu mendesis sebal “Sebenarnya mau kamu apa sih?!”
“Aku mau kita balikan” Pria itu berkata enteng lalu menikmati soda dinginnya.
Perempuan itu langsung menarik nafas dalam, muak mendengar kata “Balikan”. Sudah yang kedua kalinya tempat persembunyianya terbongkar, dan ini sudah ke empat kalinya pria itu mengajaknya balikan. Perempuan itu benar-benar muak, harus kemana lagi dia bersembunyi, menenangkan diri agar fokus pada tugas akhirnya. Mengapa pria ini terus mengejarnya.
“Sudahlah, aku gak mau diganggu” Perempuan itu beranjak dari sofa.
“Aku kangen kamu!” Pria itu meraih tangan perempuan itu.
Perempuan itu pun sama, tiap detik, tiap oksigen yang di hirupnya rasa kangen itu selalu marasuk bersamaan dengan angin kedalam pori-pori, mengisi luka menganga dalam dada, luka akibat kehilangan rasa percaya terhadap pria itu.
Perempuan itu mengibaskan tangannya, kini mereka berdiri berhadapan “Please, aku pengen fokus ngerjain skripsiku!!”
“Selamanya kamu ga akan pernah fokus, karena yang ada dalam pikiran kamu cuma aku kan?!”
Benar apa yang dikatakan pria itu, dirinya tidak pernah bisa fokus, gemuruh dalam hatinya tak pernah padam menguasai pikirannya, bayangan kenangan bersama pria itu tidak pernah absen mengganggu konsentrasinya, bahkan menghantui dalam tidurnya. Semua itu bermuara dari rasa curiga dan kecewa yang hebat akibat kilometer jarak antara mereka membuat keparcayaan pada pria itu semakin krisis dan menipis dan prasangka mengusainya seperti iblis.
Kini pikiran nya di penuhi pertanyaan: Apakah benar desas desus perselingkuhan itu hanya imajinasinya semata?
“Hari ini, aku pindah ke kota ini, demi kamu. Aku tinggalkan semua karirku disana dan akan memulainya dari awal disini. Supaya kamu percaya” pria itu menatap matanya dalam.
Perempuan itu menangis, pertahanan nya jebol, pria itu merengkuh nya, meraihnya ke dalam pelukannya, sekujur badannya perempuan itu gemetar,bahu kemeja pria itu basah karena air mata.
Pria itu mengeratkan rengkuhanya, perempuan itupun melunak, tenggelam dalam pelukan pria yang sangat dicintainya itu. Mereka merasakan panas tubuh masing-masing, membuat suasana beku itu pun mencair dan menguap bersama prasangka yang ada.
“Maafin aku ya” pria itu melepaskan pelukannya, menempelkan keningnya ke kening perempuan itu. “Pulanglah kerumah, ibu mu pasti khawatir, jangan tinggal di apartemen butut ini lagi” lalu pria itu mengecup kening perempuan itu.
∞∞∞
Pria berkemeja abu-abu itu pun keluar dari apartemen, lalu berjalan menuju parkiran sambil mengencangkan ikatan dasi di lehernya. Smartphone pria itu pun berbunyi. Ada panggilan masuk.

“Halo..” pria itu mengangkat teleponya

“Iya tante, saya sudah ketemu sama dia, dan saya sudah tau di mana dia tinggal, dan saya akan membawanya pulang kerumah besok”
Pria itu berhenti berbicara dan hanya mengangguk-anggunk mendengarkan orang yang disebrang itu bericara.
“Baik, saya tunggu imbalan yang sudah tante janjikan” pria itu nyengir kegirangan  dan menutup telepon nya.
Lalu pria itu mengetik pesan singkat ke salah satu nomer kontak yang ada di handphone-nya
“Sayang, mungkin utk beberapa waktu kita gak bisa ketemu dulu, sampai skripsi dia beres, semoga kmu ngerti, ini demi masa depan kita. I miss u and love u always”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar