Ya inilah anak2 multimedia satu~
First
Sabtu, 19 Juli 2014
Kamis, 05 Juni 2014
Tears, Pains, Him
Orang bilang kalau kita pacaran dan jatuh cinta itu rasanya bahagia.
Sampai hari ini aku 3 tahunan sama dia, aku masih belum ngerasain
bahagianya pacaran atau jatuh cinta. Pernah sih ngerasain bahagianya
jatuh cinta, tapi itu 2 tahun 55 minggu yang lalu, waktu awal jadian
doang.
“Please Ren, kita 3 tahun hari ini, bisa gak kamu jangan marah marah. Hari ini aja?” ucapku lirih padanya. “Emangnya ini mau aku marah marah? Kamu kan yang bikin aku marah,” balasnya acuh.
Air mataku kembali mengalir, dan tetap tidak diperdulikan olehnya. “I miss the old you Ren,” gumamku yang ternyata terdengar olehnya, kembali mukanya keruh, dia selalu benci ngomongin masa lalu. Katanya uda basi.
“Apa? Waktu awal kita jadian itu? Uda lupa.” Balasnya malas. Benar kan, dia pasti makin marah. “Uda lah, gak usah rayu rayu Em, aku udah bete.” Lanjutnya lagi.
Yang aku rasain cuma sakit, dari 3 tahun pacaran ini. Rasanya gak pernah sehari aja kita lewatin dengan bahagia, selalu aja ada yang bikin dia marah.
“Sekarang mau kamu apa deh Ren, aku uda capek. Aku capek nangis, aku capek ngerasain sakit, aku capek harus selalu aku yang pertahanin hubungan ini, aku capek selalu dituduh bohong, selingkuh, padahal kamu yang bohongin aku dan jalan sama cewek lain. Aku capek ngadepin kamu yang egois, ngambekan, emosian. Kalau kamu mau putus? Fine! Putus, I’m not going to fight for you anymore. From days to days it doesn’t feel like love anymore. Kamu bahkan gak percaya sama sekali sama aku, buat apa kayak gini. Kamu cuma bisa nyakitin aku, tapi kamu tau? Aku bahkan gak bisa benci kamu, bukannya benci sama kamu aku malah benci sama diri aku sendiri karena masih cinta sama kamu. Kamu bilang aku gak cinta sama kamu, kamu bilang aku pura pura, kamu bilang aku selalu bohongin kamu. Padahal kamu tau persis aku cinta dan aku gak pernah mau pergi dari kamu. Kamu pikir selama ini apa yang bikin aku tahan sama kamu? 3 tahun Ren, gak sebentar. 3 tahun dibohongin, 3 tahun dimaki, 3 tahun disakitin. Semua orang udah suruh aku putus aja sama kamu, tapi aku gak dengerin mereka, karena aku cinta sama kamu. Tapi kamu bahkan gak mau susah susah untuk percaya kalau aku memang cinta sama kamu. Kamu selalu bilang kamu cinta sama aku, tapi kamu gak nunjukkin itu sama sekali. Setiap malem aku selalu nangis dan doa, kapan ini bakal berubah, sampai barusan aku sadar, gak akan pernah. Gak perduli sekuat apapun aku coba supaya hubungan kita berhasil, gak akan bisa. Karena aku berusaha sendiri, dan kamu gak perduli sedikitpun tentang kita. Jadi percuma, aku gak akan berusaha lagi. Mungkin kita emang gak bisa bareng. And from now on, I will only love myself.”
“Please Ren, kita 3 tahun hari ini, bisa gak kamu jangan marah marah. Hari ini aja?” ucapku lirih padanya. “Emangnya ini mau aku marah marah? Kamu kan yang bikin aku marah,” balasnya acuh.
Air mataku kembali mengalir, dan tetap tidak diperdulikan olehnya. “I miss the old you Ren,” gumamku yang ternyata terdengar olehnya, kembali mukanya keruh, dia selalu benci ngomongin masa lalu. Katanya uda basi.
“Apa? Waktu awal kita jadian itu? Uda lupa.” Balasnya malas. Benar kan, dia pasti makin marah. “Uda lah, gak usah rayu rayu Em, aku udah bete.” Lanjutnya lagi.
Yang aku rasain cuma sakit, dari 3 tahun pacaran ini. Rasanya gak pernah sehari aja kita lewatin dengan bahagia, selalu aja ada yang bikin dia marah.
“Sekarang mau kamu apa deh Ren, aku uda capek. Aku capek nangis, aku capek ngerasain sakit, aku capek harus selalu aku yang pertahanin hubungan ini, aku capek selalu dituduh bohong, selingkuh, padahal kamu yang bohongin aku dan jalan sama cewek lain. Aku capek ngadepin kamu yang egois, ngambekan, emosian. Kalau kamu mau putus? Fine! Putus, I’m not going to fight for you anymore. From days to days it doesn’t feel like love anymore. Kamu bahkan gak percaya sama sekali sama aku, buat apa kayak gini. Kamu cuma bisa nyakitin aku, tapi kamu tau? Aku bahkan gak bisa benci kamu, bukannya benci sama kamu aku malah benci sama diri aku sendiri karena masih cinta sama kamu. Kamu bilang aku gak cinta sama kamu, kamu bilang aku pura pura, kamu bilang aku selalu bohongin kamu. Padahal kamu tau persis aku cinta dan aku gak pernah mau pergi dari kamu. Kamu pikir selama ini apa yang bikin aku tahan sama kamu? 3 tahun Ren, gak sebentar. 3 tahun dibohongin, 3 tahun dimaki, 3 tahun disakitin. Semua orang udah suruh aku putus aja sama kamu, tapi aku gak dengerin mereka, karena aku cinta sama kamu. Tapi kamu bahkan gak mau susah susah untuk percaya kalau aku memang cinta sama kamu. Kamu selalu bilang kamu cinta sama aku, tapi kamu gak nunjukkin itu sama sekali. Setiap malem aku selalu nangis dan doa, kapan ini bakal berubah, sampai barusan aku sadar, gak akan pernah. Gak perduli sekuat apapun aku coba supaya hubungan kita berhasil, gak akan bisa. Karena aku berusaha sendiri, dan kamu gak perduli sedikitpun tentang kita. Jadi percuma, aku gak akan berusaha lagi. Mungkin kita emang gak bisa bareng. And from now on, I will only love myself.”
Love It’s Hurt
Gadis cantik, tinggi, putih, pintar dan memiliki rambut yang amat
indah untuk dilihat. Matanya yang selalu tersenyum dengan tahi lalat
yang ada di dagu sebelah kanan yang membuat dia semakin terlihat cantik
dan manis pula. Gadis itu bernama Shania Anastasya yang masih duduk di
bangku SMA kelas 2.
Tadi gue udah bilang, dia emang cantik, baik hati, nan disiplin pula. Tapi dengan semua kesempurnaan dia, dia selalu gagal dalam hal bercinta. Kenapa?
Begini ceritanya, cekidot!
Pagi itu terasa sejuk sehingga membuat Shania bangun lebih pagi karena dia ada janji untuk mengerjakan tugas kimia yang sangat sulit untuk dikerjakan sendiri. Tepat pukul 06.10 Shania pergi ke Sekolah menggunakan Jazz merah kesayangannya. Itu adalah modal Shania agar terlihat lebih keren, apalagi sekarang dia sedang jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak diketahui oleh karibnya, Beby.
“Shan!”
“Eh Beb, lo udah datang dari tadi?”
“Iya, gue nunggu lo dari tadi jam 6 tahu! Lo lama banget sih! Katanya mau ngerjain tugas kimia, buruan bukunya keluarin!” Pinta Beby.
“Sabar dong, gue kan baru datang, bukannya disambut dengan senyum lo malah ngemeng mulu. Berisik tahu!” Jawab Shania dengan bibir manyun.
Di Kelas, Beby mengajarkan tugas kimia kepada Shania, mereka berdua adalah karib dari semenjak SMP dan sampai sekarang, bahkan Beby dan Shania selalu dibilang mirip oleh teman yang lain. Tapi ternyata bukan hanya teman mereka saja, guru-guru pun banyak yang bilang mereka mirip alias kembar. Secara kan mereka itu sama-sama tinggi, model rambutnya sama, disiplin, cantik, putih, hidungnya mancung dan matanya pun hampir sama. Jadi ya wajar kalau mereka disebut kembaran sejoli.
Saat istirahat pertama seperti biasa mereka selalu pergi berdua ke Kantin. Selama makan di Kantin, Shania cengengesan mulu sendiri sehingga membuat Beby penasaran tingkat dewa. Lebay.
“Shan!”
“Shaniaa.”
“Shan lo nggak apa-apa kan?”
Udah tiga kali Beby manggil Shania tapi tidak ada jawaban sama sekali, mungkin Shania masih asik dengan bayangan yang ada di benaknya.
“Shania lo gila!!” Teriak Beby yang membuat semua siswa yang ada di Kantin menoleh ke arah dirinya.
“Hah? Apaan sih lo beb, nggak sopan teriak gue gila. Malu tahu! Lo mikir dong disini itu banyak orang dan lo juga mikir disini itu ada cowok yang gue suka *ehh.” Tanpa sadar, Shania keceplosan bilang bahwa di Kantin ada cowok yang ia sukai.
“Apa? Cowok yang lo suka? Siapa? Kok lo nggak bilang-bilang sama gue, lo mau coba rahasia-rahasian sama gue. Lo kok gitu sih, jahat banget nggak mau cerita ke gue. Nih ya kalau lo suka sama seseorang itu jangan dipendam, ntar malah makan hati lo. Hahaha,” Ledek Beby.
“Udah ngomongnya? Dengerin dulu deh! Mm.. tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya! Ini Cuma rahasia kita berdua, gue sebenarnya suka sama si itu tuh.” Jawab Shania sambil menunjuk ke arah cowok yang disukainya.
“Haa?? Itu.. itu kan si Oxcell? Haha, cie-cie Shania jatuh cinta sama Oxcell. Oke, gue dukung deh semoga lo bisa jadian sama dia!”
“Amin Beb, makasih ya lo selalu dukung gue.” Ucap Shania sambil memeluk Sahabatnya, Beby.
Bel berbunyi pertanda waktu istirahat sudah habis. Mereka kembali ke Kelasnya masing-masing.
Selama di Kelas Shania lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memikirkan Oxcell ketimbang memperhatikan pelajaran Bu Nia, memang Shania agak kurang suka dengan pelajarannya, yaitu pelajaran kimia. Pantas aja kalau Shania agak nggak bisa kalau dikasih tugas Kimia. Dia kan jagonya di Matematika dan IPS aja, untuk pelajaran yang lainnya dia biasa-biasa aja.
Disaat Shania terlenyap dalam khayalannya, tiba-tiba ada yang mengalung kertas kepada dirinya. Dan ternyata itu adalah Bu Nia, disitulah Shania merasa terkejut sekali dan gugup entah kemana.
“Shania! Sudah beberapa kali ini, setiap pelajaran ibu kamu tidak pernah memperhatikan! Ibu tahu kamu memang pintar dalam pelajaran Matematika, tapi tidak seharusnya juga kamu meremehkan pelajaran Ibu! Ibu tidak suka!”
“Astaga.. Bu, maafkan Shania Bu! Shania nggak bermaksud buat meremehkan pelajaran ibu. Shania hanya lagi banyak pikiran Bu! Sekali lagi maaf Bu.” Shania memelas.
“Dia kan Gila Bu!”
Tiba-tiba dari arah bangku bagian depan, ada yang meledek Shania, dia adalah Jessica. Cewek yang terkenal kaya dan sombong, yang kerjanya Cuma merendahkan rakyat kecil. Disaat situasi sedang tegang oleh marahnya Bu Nia, dia malah ikut-ikutan. Sehingga membuat Shania marah.
“Maksud lo apa? Bilang gue gila! Hah?” Teriak Shania dari bangku paling belakang.
“Eittt.. Biasa aja kali non! Nggak usah marah sambil teriak gitu ntar cepat tua, baru tahu rasa lo.” Ledek Jessica yang semakin membuat Shania emosi.
“Cukup, cukup, cukup!!! Kenapa jadi bertengkar seperti ini? Apakah Ibu menyuruh kalian untuk bertengkar? Tidak kan? Oke, daripada kelas ini menjadi tidak tentram gara-gara kalian, sekarang kalian keluar kelas dan berdiri di depan tiang Bendera sampai jam pelajaran ibu selesai!”
Shania dan Jessica mencoba memohon agar tidak dihukum, tapi tetap saja Bu Nia menyuruh mereka untuk keluar.
Di luar Sekolah cukup hening dan sepi karena semua siswa sedang melaksanakan kegiatan belajar, mungkin di Luar hanya ada mereka berdua dan petugas sekolah yang sedang menyapu halaman Sekolah. Cukup sulit dikira, cewek pintar seperti Shania, yang banyak dijuluki sebagai anak yang disiplin, sekarang dia malah dihukum di tengah lapang. Nggak habis pikir, dia terus menerus mengeluh di depan tiang bendera karena dia merasa sangat malu, apalagi kalau dilihat sama cowok idamannya, Oxcell.
Sedangkan Jessica malah asik bermain Blackbarynya, sambil mendengarkan musik menggunakan headphone lucu miliknya. Sesekali dia melirik Shania, dia hanya tertawa sinis karena dia sangat menginginkan anak yang dijuluki disiplin itu nama baiknya turun.
Jessica memang sangat tidak suka kepada Shania dari semenjak SMP. Padahal mereka itu adalah sahabat karib bersama Beby, bahkan mereka mempunyai nama julukan persahabatannya, yaitu JeEsBy yang singkatan dari Jessica Shania Beby. Tapi sungguh disayangkan persahabatan mereka tiba-tiba bubar gara-gara cowok yang disukai Jessica malah suka sama Shania, dan Beby lebih mendukung ke Shania ketimbang Jessica. Jadi begitulah, sampai sekarang Jessica menyimpan rasa benci kepada Shania dan Beby.
Di tengah panasanya matahari, Shania semakin gelisah karena merasa kepanasan dan gerah sekali. Keringatnya pun bercucuran. Tapi disaat itulah tiba-tiba ada cowok yang menepuk pundak Shania. Tanpa disangka, OMG.. dia adalah cowok idamannya, Oxcell.
Bukan kaget biasa, dia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya layaknya orang yang udah dikejar sama anjing. Haha Lebay!
“Hei Shan!” Sapa cowok ganteng yang mirip dengan AL anaknya Ahmad Dhani.
“I.. i.. iya?” Jawab Shania dengan muka penuh rasa malu dan gugup.
“Biasa aja tuh muka, jangan gugup gitu! Kaya yang lihat siapa aja.”
“Hehe lo Cell, ada apa?”
“Nggak, Cuma mau nemenin lo aja disini.”
“Kok mau nemenin gue sih? Gue kan lagi dihukum!”
“Nggak apa-apa, biar hukuman lo agak lebih ringan ditemenin orang cakep kaya gue.” Ucap Oxcell dengan gaya so’ kerennya.
“Ah lo PD banget, tapi kayanya gue mau kembali ke Kelas deh, soalnya gue dihukum sampai jam pelajaran Bu Nia selesai. Nah, sekarang kan udah selesai. Jadi gue mau balik ke Kelas ya.. sorry gue udah gerah banget nih! Jadi haus pengen minum. Duluan ya!” Jawab Shania sambil berlari, tersenyum malu, deg-degan, yaa pokonya campur aduk deh hatinya Shania.
Di lapangan itu masih ada Jessica. Jessica yang tidak mendengar bel pergantian pelajaran, dia masih asik dengan BB dan Musiknya. Sehingga membuat Oxcell menepuk pundak Jessica.
“Jess!”
“Jessi.”
“Jessica Natalia!” Untuk yang ketiga kalinya, suara Oxcell diperbesar agar bisa didengar oleh Jessica yang sedang mendengarkan musik.
“Eh iya app…”
“Lho, Oxcell, lo ngapain disini? Terus, mana si Shaniot? Kok ilang, apa dia sakit atau pingsan atau juga mati gara-gara berdiri 1 jam di lapangan?” Bacotan Jessica mulai muncul di depan Oxcell.
“Berisik lo! Shania udah masuk ke Kelas soalnya waktu hukumannya udah habis.”
“Oh ya? Tapi nggak apa-apa deh, gue malas ke kelas, soalnya sekarang bagian pelajaran Bu Herna! Guru Ekonomi yang bisanya Cuma rampas BB gue!”
“Haha benar tuh! Eh eh mending kita duduk di kursi itu aja yuk! Panas disini.”
“Oke ayo!”
Sesampainya mereka di tempat duduk, Jessica malah ngajak Oxcell flashback. Iya Flashback, jadi gini.. Oxcell itu adalah masa lalunya Jessica, dan lagi-lagi mereka putus gara-gara Oxcell naksir kepada Shania.
Dulu waktu SMP sih, Shania banyak yang naksir karena dia itu murid baru. Tapi waktu SMP Shania cuek banget sama yang namanya cinta, entah kenapa. Mungkin waktu di SMP yang lama, dia pernah mengalami hal yang tidak mengenakan dalam hal bercinta. Tapi sekarang dia udah bisa Move On kok, dan mulai mencintai seorang laki-laki kembali.
“Cell, Kenapa sih dulu kita putus?”
“Nggak tahu!”
“Ih kok lo cuek banget! Emang lo nggak ada pikiran buat balikan lagi sama gue?”
“Apa? Balikan lagi? Sorry aja, gue udah suka sama yang lain!”
“Siapa? Jangan bilang kalau dia itu SHANIA?”
“Emang! Gue sampai sekarang masih suka sama Shania!”
“Apa? Lo suka sama Shania??” Tiba-tiba dari arah sebelah kanan Oxcell ada cewek cantik yang menghampiri dan nggak sengaja mendengar perkataan Oxcell tentang Shania, dia adalah Beby karibnya Shania.
“Eh lo beb! Ngapain lo disini?” Jawab Oxcell dengan penuh rasa kaget dan gugup.
“Gue habis dari depan! Habis fotocopy tugas Bu Herna. Lo kenapa nggak masuk kelas? Lo mau dikeluarin sama gue? Hah?”
“Ih beb galak banget lo, mentang-mentang jadi ketua kelas jadi seenaknya ngeluarin gue.”
“Ya udah makannya cepat masuk kelas! Bu Hernanya juga udah keluar, dia ada urusan sama keluarganya, jadi dikasih tugas!”
“Oh ya udah deh yuk!”
Jessica hanya bengong melihat Beby dan Oxcell, dia merasa seperti kacang yang lupa kulitnya. Kalau udah nggak perlu langsung ditinggal begitu aja. Tapi bukannya Jessica masuk kelas dia malah melanjutkan BBM-an bersama gebetan yang ia yakini bisa membuat dirinya Move On dari Oxcell.
Kegiatan belajar mengajar sudah habis. Seperti hari-hari biasa, Beby selalu nebeng pulang kepada Shania. Tapi kali ini Beby nggak langsung pulang dia mau main dulu ke Rumah Shania, dan Shania sama sekali tidak keberatan Beby main ke rumahnya.
Selama di dalam mobil, Beby menceritakan semua tentang perkataan Oxcell tentang Shania. Bahwa Oxcell juga suka sama Shania, tapi dia menyembunyikan perasaan itu karena takut Shania nggak suka balik kepada Oxcell. Alhasil, setelah Beby menceritakan itu semua, Shania merasa ngefly, hati dia nggak karuan, deg-degan terus-terussan.
“Cell, lo beneran suka kan sama Shania?” Tanya Beby kepada Oxcell di dalam Kelas.
“Bukan Cuma sekedar suka, gue Cinta juga sama dia!”
“Kalau emang lo cinta sama dia, kenapa gak jadian aja coba? Lo kan cowok, gentle dong! Jangan ngurusin diterima atau nggaknya, tapi nyoba dulu.. kali aja Shania juga suka sama lo. Hmm, gue sih Cuma kasih saran buat lo.”
“Oh oke deh, gue akan coba deketin dia, ya itung-itung pdkt gitu. Haha, oh ya, boleh dong gue minta nomor Hpnya dia!”
“Oh oke, Nih! Gue doain ya, semoga pdktnya sukses dan bisa jadian.” Jawab Beby sambil pergi berlari kecil ke Luar.
Setelah beberapa hari. Oxcell dan Shania berhasil pdkt sampai jadian. Shania menceritakan semua kesenangan dia kepada karibnya, Beby. Dan Beby pun ikut senang atas hari jadian mereka. Tapi, tetap aja ada yang iri mereka jadian, siapa lagi kalau bukan Jessica. Jelas aja dia iri banget, secara dia kan mantannya dan sampai sekarang masih belum bisa MoveOn. Cowok yang dikira Jessica akan bisa membuat dirinya MoveOn, malah cowok itu udah punya pacar duluan.
Semua hari Shania dan Oxcell dilewati dengan penuh warna, bahkan belajarnya lebih semangat dari hari biasanya. Yang biasanya disaat pelajaran Kimia Shania suka tidur atau melamun, sekarang dia menjadi lebih rajin dan selalu mendapatkan acc dari Bu Nia. Sebaliknya, Oxcell pun menjadi lebih giat belajar dalam pelajaran Ekonomi.
Karena setiap harinya Jessica selalu melihat Shania dan Oxcell berdua terus di Sekolah. Jessica nggak bisa tinggal diam. Dia berencana untuk menghancurkan hubungan mereka. Dengan cara apapun, dia akan terus berusaha agar mereka berdua putus. Dan Oxcell bisa menjadi miliknya kembali.
Hingga suatu ketika, disaat anniversary 1 month Shania Oxcell, kejutan yang diberikan Oxcell kepada Shania, di dalamnya berubah menjadi seekor ular. Semua itu yang merubahnya yang tak lain adalah Jessica, dia memang keterlaluan sekali. Apalagi Shania sangat phobia terhadap ular. Jadi disaat Shania membuka kado tersebut, bukan main kaget. Shania sampai pingsan dan dibawa ke UKS, dia merasa ketakutan sekali, tapi Oxcell dan Beby berusaha menenangkannya.
Saat beberapa menit kemudian, Shania siuman.
“Sayang kamu nggak apa-apa kan?” Tanya Oxcell dengan penuh rasa cemas.
“Nggak kok!”
“Maksud kamu apa sih! Ngasih aku kejutan yang benar-benar nggak layak untuk diterima.”
“Sumpah! Itu bukan kado dari aku Shan. Aku nggak berani lah ngasih kado gituan buat kamu. Demi apapun bukan aku yang ngubah isi kado itu.”
Setelah beberapa lama Oxcell meyakinkan bahwa bukan dirinya yang mengubah isi kado itu. Akhirnya Shania percaya juga dan Beby rasa memang bukan Oxcell yang merubah isi kado tersebut, melainkan orang yang iri terhadap hubungan mereka berdua. Yaa.. yang tak lain adalah Jessica. Itulah peeling yang ada di benak Beby. Firasat Beby memang selalu benar, tapi dia nggak mau suudzon dulu. Takut bukan Jessica yang melakukannya, ntar malah Tengsin.
Ternyata usaha Jessica belum sampai disini. Dia mempunyai rencana selanjutnya yang akan membuat mereka berdua bertengkar. Yaitu dengan cara meneror Shania yang isinya bahwa dia itu pernah dihamili oleh Oxcell saat pacaran dulu. Dan alhasil, Shania sangat marah besar saat mendapat teroran itu. Shania terkejut dan sangat kaget, karena bisa-bisanya Oxcell, orang yang dinilai baik oleh dirinya melakukan hal tidak senonoh seperti itu.
Ketika Oxcell ditanya tentang itu oleh Shania. Oxcell membantah mentah-mentah, yang ada Shania malah dituduh memfitnah dirinya. Karena mereka berdua sama-sama keras, tidak ada yang mau mengalah satu pun. Akhirnya mereka berdua break pacaran dulu sampai Shania bisa menenangkan dirinya. Tapi Oxcell menolak ajakan break itu, karena dia nggak mau lost contact dengan Shania.
Sudah hampir 3 minggu mereka break. Oxcell merasa nggak tahan, nggak bisa jauh dari Shania. Dia pun mengajak Shania agar hubungannya dilanjutkan kembali. Begitupun dengan Shania, dia pun mau melanjutkan hubungannya kembali dengan satu syarat nggak akan pernah ada masalah lagi di antara kita berdua, walaupun ada masalah kita harus bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Selang beberapa hari kembalinya hubungan mereka. Mereka dilanda masalah lagi yang benar-benar membuat mereka berdua putus. Yaitu, Jessica memberanikan diri datang ke tempat makan dimana Shania dan Oxcell sedang Dinner bareng. Tapi disaat Jessica menghampiri tempat duduk Oxcell dan Shania, kebetulan Shania lagi pergi ke toilet.
“Cell.”
“Lho, lo ngapain kesini?”
“Jujur Cell, gue itu masih sayang sama lo, gue nggak mau pisah sama lo. Gue juga suka cemburu kalau ngelihat lo berduaan sama Shania. Gue mau kita balikan lagi kaya dulu Cell!”
Oxcell hanya bengong mendengar ajakan untuk balikan dari Jessica. Kagetnya, di arah depan sana, Shania mendengarkan pembicaraan itu. Dia meresa sakit hati dan air matanya pun mulai menetes.
“Apakah aku harus merelakan Oxcell untuk Jessica?” Ucap Shania di dalam hati sambil meneteskan air matanya yang bening.
Dengan perlahan Shania beranjak mendekati Oxcell dan Jessica. Dan Shania memegang tangan mereka lalu menyatukannya layaknya orang yang sedang beromantisme.
“Cell, Jess, gue tahu kok, kalau kalian itu masih saling suka dan saling sayang. Gue ikhlas kok, kalian berdua balikan lagi. Kalian jangan mikirin nanti gimana gue. Nggak apa-apa kok, lagipula gue emang pingin sendiri. Gue pingin lebih focus belajar. Jadi nggak ada salahnya kalau kalian balikan.”
“Tapi Shan…”
“Udah nggak apa-apa Cell. Gue sekarang pamit ya! Gue ada urusan sama Beby. Gue tinggal ya kalian berdua. Dan lo Jess, jaga Oxcell baik-baik, jangan sampai Oxcell pindah ke lain hati untuk yang kesekian kalinya.”
Shania pergi sambil berlari kecil, tampak air matanya terurai membasahi pipinya yang manis. Sebenarnya dia nggak iklhas Jessica jadian dengan Oxcell, tapi apa boleh buat. Dia sudah cape dengan semua masalah yang selalu datang dari Jessica. Apalagi dia tahu kalau Oxcell masih sayang kepada Jessica, dilihat dari cara dia melihatnya, dan pada saat itu, saat Shania diberi kado ular. Bukannya Oxcell marah kepada Jessica, yang ada dia malah bilang jangan bahas masalah itu. Lupakan aja masalah itu. Padahal dia udah tahu kalau yang mengubah kado itu adalah mantannya sendiri.
Oke, Malam itu menjadi malam yang paling menyakitkan untuk Shania, dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta selama SMA ini. Udah cukup dia mencintai Cowok yang masih sayang kepada mantannya. Semua ini Cuma bikin dirinya sakit hati dan ngebantin terus-terusan.
“I Love You, Oxcell. I will remember you, always! :’)”
Tadi gue udah bilang, dia emang cantik, baik hati, nan disiplin pula. Tapi dengan semua kesempurnaan dia, dia selalu gagal dalam hal bercinta. Kenapa?
Begini ceritanya, cekidot!
Pagi itu terasa sejuk sehingga membuat Shania bangun lebih pagi karena dia ada janji untuk mengerjakan tugas kimia yang sangat sulit untuk dikerjakan sendiri. Tepat pukul 06.10 Shania pergi ke Sekolah menggunakan Jazz merah kesayangannya. Itu adalah modal Shania agar terlihat lebih keren, apalagi sekarang dia sedang jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak diketahui oleh karibnya, Beby.
“Shan!”
“Eh Beb, lo udah datang dari tadi?”
“Iya, gue nunggu lo dari tadi jam 6 tahu! Lo lama banget sih! Katanya mau ngerjain tugas kimia, buruan bukunya keluarin!” Pinta Beby.
“Sabar dong, gue kan baru datang, bukannya disambut dengan senyum lo malah ngemeng mulu. Berisik tahu!” Jawab Shania dengan bibir manyun.
Di Kelas, Beby mengajarkan tugas kimia kepada Shania, mereka berdua adalah karib dari semenjak SMP dan sampai sekarang, bahkan Beby dan Shania selalu dibilang mirip oleh teman yang lain. Tapi ternyata bukan hanya teman mereka saja, guru-guru pun banyak yang bilang mereka mirip alias kembar. Secara kan mereka itu sama-sama tinggi, model rambutnya sama, disiplin, cantik, putih, hidungnya mancung dan matanya pun hampir sama. Jadi ya wajar kalau mereka disebut kembaran sejoli.
Saat istirahat pertama seperti biasa mereka selalu pergi berdua ke Kantin. Selama makan di Kantin, Shania cengengesan mulu sendiri sehingga membuat Beby penasaran tingkat dewa. Lebay.
“Shan!”
“Shaniaa.”
“Shan lo nggak apa-apa kan?”
Udah tiga kali Beby manggil Shania tapi tidak ada jawaban sama sekali, mungkin Shania masih asik dengan bayangan yang ada di benaknya.
“Shania lo gila!!” Teriak Beby yang membuat semua siswa yang ada di Kantin menoleh ke arah dirinya.
“Hah? Apaan sih lo beb, nggak sopan teriak gue gila. Malu tahu! Lo mikir dong disini itu banyak orang dan lo juga mikir disini itu ada cowok yang gue suka *ehh.” Tanpa sadar, Shania keceplosan bilang bahwa di Kantin ada cowok yang ia sukai.
“Apa? Cowok yang lo suka? Siapa? Kok lo nggak bilang-bilang sama gue, lo mau coba rahasia-rahasian sama gue. Lo kok gitu sih, jahat banget nggak mau cerita ke gue. Nih ya kalau lo suka sama seseorang itu jangan dipendam, ntar malah makan hati lo. Hahaha,” Ledek Beby.
“Udah ngomongnya? Dengerin dulu deh! Mm.. tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya! Ini Cuma rahasia kita berdua, gue sebenarnya suka sama si itu tuh.” Jawab Shania sambil menunjuk ke arah cowok yang disukainya.
“Haa?? Itu.. itu kan si Oxcell? Haha, cie-cie Shania jatuh cinta sama Oxcell. Oke, gue dukung deh semoga lo bisa jadian sama dia!”
“Amin Beb, makasih ya lo selalu dukung gue.” Ucap Shania sambil memeluk Sahabatnya, Beby.
Bel berbunyi pertanda waktu istirahat sudah habis. Mereka kembali ke Kelasnya masing-masing.
Selama di Kelas Shania lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memikirkan Oxcell ketimbang memperhatikan pelajaran Bu Nia, memang Shania agak kurang suka dengan pelajarannya, yaitu pelajaran kimia. Pantas aja kalau Shania agak nggak bisa kalau dikasih tugas Kimia. Dia kan jagonya di Matematika dan IPS aja, untuk pelajaran yang lainnya dia biasa-biasa aja.
Disaat Shania terlenyap dalam khayalannya, tiba-tiba ada yang mengalung kertas kepada dirinya. Dan ternyata itu adalah Bu Nia, disitulah Shania merasa terkejut sekali dan gugup entah kemana.
“Shania! Sudah beberapa kali ini, setiap pelajaran ibu kamu tidak pernah memperhatikan! Ibu tahu kamu memang pintar dalam pelajaran Matematika, tapi tidak seharusnya juga kamu meremehkan pelajaran Ibu! Ibu tidak suka!”
“Astaga.. Bu, maafkan Shania Bu! Shania nggak bermaksud buat meremehkan pelajaran ibu. Shania hanya lagi banyak pikiran Bu! Sekali lagi maaf Bu.” Shania memelas.
“Dia kan Gila Bu!”
Tiba-tiba dari arah bangku bagian depan, ada yang meledek Shania, dia adalah Jessica. Cewek yang terkenal kaya dan sombong, yang kerjanya Cuma merendahkan rakyat kecil. Disaat situasi sedang tegang oleh marahnya Bu Nia, dia malah ikut-ikutan. Sehingga membuat Shania marah.
“Maksud lo apa? Bilang gue gila! Hah?” Teriak Shania dari bangku paling belakang.
“Eittt.. Biasa aja kali non! Nggak usah marah sambil teriak gitu ntar cepat tua, baru tahu rasa lo.” Ledek Jessica yang semakin membuat Shania emosi.
“Cukup, cukup, cukup!!! Kenapa jadi bertengkar seperti ini? Apakah Ibu menyuruh kalian untuk bertengkar? Tidak kan? Oke, daripada kelas ini menjadi tidak tentram gara-gara kalian, sekarang kalian keluar kelas dan berdiri di depan tiang Bendera sampai jam pelajaran ibu selesai!”
Shania dan Jessica mencoba memohon agar tidak dihukum, tapi tetap saja Bu Nia menyuruh mereka untuk keluar.
Di luar Sekolah cukup hening dan sepi karena semua siswa sedang melaksanakan kegiatan belajar, mungkin di Luar hanya ada mereka berdua dan petugas sekolah yang sedang menyapu halaman Sekolah. Cukup sulit dikira, cewek pintar seperti Shania, yang banyak dijuluki sebagai anak yang disiplin, sekarang dia malah dihukum di tengah lapang. Nggak habis pikir, dia terus menerus mengeluh di depan tiang bendera karena dia merasa sangat malu, apalagi kalau dilihat sama cowok idamannya, Oxcell.
Sedangkan Jessica malah asik bermain Blackbarynya, sambil mendengarkan musik menggunakan headphone lucu miliknya. Sesekali dia melirik Shania, dia hanya tertawa sinis karena dia sangat menginginkan anak yang dijuluki disiplin itu nama baiknya turun.
Jessica memang sangat tidak suka kepada Shania dari semenjak SMP. Padahal mereka itu adalah sahabat karib bersama Beby, bahkan mereka mempunyai nama julukan persahabatannya, yaitu JeEsBy yang singkatan dari Jessica Shania Beby. Tapi sungguh disayangkan persahabatan mereka tiba-tiba bubar gara-gara cowok yang disukai Jessica malah suka sama Shania, dan Beby lebih mendukung ke Shania ketimbang Jessica. Jadi begitulah, sampai sekarang Jessica menyimpan rasa benci kepada Shania dan Beby.
Di tengah panasanya matahari, Shania semakin gelisah karena merasa kepanasan dan gerah sekali. Keringatnya pun bercucuran. Tapi disaat itulah tiba-tiba ada cowok yang menepuk pundak Shania. Tanpa disangka, OMG.. dia adalah cowok idamannya, Oxcell.
Bukan kaget biasa, dia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya layaknya orang yang udah dikejar sama anjing. Haha Lebay!
“Hei Shan!” Sapa cowok ganteng yang mirip dengan AL anaknya Ahmad Dhani.
“I.. i.. iya?” Jawab Shania dengan muka penuh rasa malu dan gugup.
“Biasa aja tuh muka, jangan gugup gitu! Kaya yang lihat siapa aja.”
“Hehe lo Cell, ada apa?”
“Nggak, Cuma mau nemenin lo aja disini.”
“Kok mau nemenin gue sih? Gue kan lagi dihukum!”
“Nggak apa-apa, biar hukuman lo agak lebih ringan ditemenin orang cakep kaya gue.” Ucap Oxcell dengan gaya so’ kerennya.
“Ah lo PD banget, tapi kayanya gue mau kembali ke Kelas deh, soalnya gue dihukum sampai jam pelajaran Bu Nia selesai. Nah, sekarang kan udah selesai. Jadi gue mau balik ke Kelas ya.. sorry gue udah gerah banget nih! Jadi haus pengen minum. Duluan ya!” Jawab Shania sambil berlari, tersenyum malu, deg-degan, yaa pokonya campur aduk deh hatinya Shania.
Di lapangan itu masih ada Jessica. Jessica yang tidak mendengar bel pergantian pelajaran, dia masih asik dengan BB dan Musiknya. Sehingga membuat Oxcell menepuk pundak Jessica.
“Jess!”
“Jessi.”
“Jessica Natalia!” Untuk yang ketiga kalinya, suara Oxcell diperbesar agar bisa didengar oleh Jessica yang sedang mendengarkan musik.
“Eh iya app…”
“Lho, Oxcell, lo ngapain disini? Terus, mana si Shaniot? Kok ilang, apa dia sakit atau pingsan atau juga mati gara-gara berdiri 1 jam di lapangan?” Bacotan Jessica mulai muncul di depan Oxcell.
“Berisik lo! Shania udah masuk ke Kelas soalnya waktu hukumannya udah habis.”
“Oh ya? Tapi nggak apa-apa deh, gue malas ke kelas, soalnya sekarang bagian pelajaran Bu Herna! Guru Ekonomi yang bisanya Cuma rampas BB gue!”
“Haha benar tuh! Eh eh mending kita duduk di kursi itu aja yuk! Panas disini.”
“Oke ayo!”
Sesampainya mereka di tempat duduk, Jessica malah ngajak Oxcell flashback. Iya Flashback, jadi gini.. Oxcell itu adalah masa lalunya Jessica, dan lagi-lagi mereka putus gara-gara Oxcell naksir kepada Shania.
Dulu waktu SMP sih, Shania banyak yang naksir karena dia itu murid baru. Tapi waktu SMP Shania cuek banget sama yang namanya cinta, entah kenapa. Mungkin waktu di SMP yang lama, dia pernah mengalami hal yang tidak mengenakan dalam hal bercinta. Tapi sekarang dia udah bisa Move On kok, dan mulai mencintai seorang laki-laki kembali.
“Cell, Kenapa sih dulu kita putus?”
“Nggak tahu!”
“Ih kok lo cuek banget! Emang lo nggak ada pikiran buat balikan lagi sama gue?”
“Apa? Balikan lagi? Sorry aja, gue udah suka sama yang lain!”
“Siapa? Jangan bilang kalau dia itu SHANIA?”
“Emang! Gue sampai sekarang masih suka sama Shania!”
“Apa? Lo suka sama Shania??” Tiba-tiba dari arah sebelah kanan Oxcell ada cewek cantik yang menghampiri dan nggak sengaja mendengar perkataan Oxcell tentang Shania, dia adalah Beby karibnya Shania.
“Eh lo beb! Ngapain lo disini?” Jawab Oxcell dengan penuh rasa kaget dan gugup.
“Gue habis dari depan! Habis fotocopy tugas Bu Herna. Lo kenapa nggak masuk kelas? Lo mau dikeluarin sama gue? Hah?”
“Ih beb galak banget lo, mentang-mentang jadi ketua kelas jadi seenaknya ngeluarin gue.”
“Ya udah makannya cepat masuk kelas! Bu Hernanya juga udah keluar, dia ada urusan sama keluarganya, jadi dikasih tugas!”
“Oh ya udah deh yuk!”
Jessica hanya bengong melihat Beby dan Oxcell, dia merasa seperti kacang yang lupa kulitnya. Kalau udah nggak perlu langsung ditinggal begitu aja. Tapi bukannya Jessica masuk kelas dia malah melanjutkan BBM-an bersama gebetan yang ia yakini bisa membuat dirinya Move On dari Oxcell.
Kegiatan belajar mengajar sudah habis. Seperti hari-hari biasa, Beby selalu nebeng pulang kepada Shania. Tapi kali ini Beby nggak langsung pulang dia mau main dulu ke Rumah Shania, dan Shania sama sekali tidak keberatan Beby main ke rumahnya.
Selama di dalam mobil, Beby menceritakan semua tentang perkataan Oxcell tentang Shania. Bahwa Oxcell juga suka sama Shania, tapi dia menyembunyikan perasaan itu karena takut Shania nggak suka balik kepada Oxcell. Alhasil, setelah Beby menceritakan itu semua, Shania merasa ngefly, hati dia nggak karuan, deg-degan terus-terussan.
“Cell, lo beneran suka kan sama Shania?” Tanya Beby kepada Oxcell di dalam Kelas.
“Bukan Cuma sekedar suka, gue Cinta juga sama dia!”
“Kalau emang lo cinta sama dia, kenapa gak jadian aja coba? Lo kan cowok, gentle dong! Jangan ngurusin diterima atau nggaknya, tapi nyoba dulu.. kali aja Shania juga suka sama lo. Hmm, gue sih Cuma kasih saran buat lo.”
“Oh oke deh, gue akan coba deketin dia, ya itung-itung pdkt gitu. Haha, oh ya, boleh dong gue minta nomor Hpnya dia!”
“Oh oke, Nih! Gue doain ya, semoga pdktnya sukses dan bisa jadian.” Jawab Beby sambil pergi berlari kecil ke Luar.
Setelah beberapa hari. Oxcell dan Shania berhasil pdkt sampai jadian. Shania menceritakan semua kesenangan dia kepada karibnya, Beby. Dan Beby pun ikut senang atas hari jadian mereka. Tapi, tetap aja ada yang iri mereka jadian, siapa lagi kalau bukan Jessica. Jelas aja dia iri banget, secara dia kan mantannya dan sampai sekarang masih belum bisa MoveOn. Cowok yang dikira Jessica akan bisa membuat dirinya MoveOn, malah cowok itu udah punya pacar duluan.
Semua hari Shania dan Oxcell dilewati dengan penuh warna, bahkan belajarnya lebih semangat dari hari biasanya. Yang biasanya disaat pelajaran Kimia Shania suka tidur atau melamun, sekarang dia menjadi lebih rajin dan selalu mendapatkan acc dari Bu Nia. Sebaliknya, Oxcell pun menjadi lebih giat belajar dalam pelajaran Ekonomi.
Karena setiap harinya Jessica selalu melihat Shania dan Oxcell berdua terus di Sekolah. Jessica nggak bisa tinggal diam. Dia berencana untuk menghancurkan hubungan mereka. Dengan cara apapun, dia akan terus berusaha agar mereka berdua putus. Dan Oxcell bisa menjadi miliknya kembali.
Hingga suatu ketika, disaat anniversary 1 month Shania Oxcell, kejutan yang diberikan Oxcell kepada Shania, di dalamnya berubah menjadi seekor ular. Semua itu yang merubahnya yang tak lain adalah Jessica, dia memang keterlaluan sekali. Apalagi Shania sangat phobia terhadap ular. Jadi disaat Shania membuka kado tersebut, bukan main kaget. Shania sampai pingsan dan dibawa ke UKS, dia merasa ketakutan sekali, tapi Oxcell dan Beby berusaha menenangkannya.
Saat beberapa menit kemudian, Shania siuman.
“Sayang kamu nggak apa-apa kan?” Tanya Oxcell dengan penuh rasa cemas.
“Nggak kok!”
“Maksud kamu apa sih! Ngasih aku kejutan yang benar-benar nggak layak untuk diterima.”
“Sumpah! Itu bukan kado dari aku Shan. Aku nggak berani lah ngasih kado gituan buat kamu. Demi apapun bukan aku yang ngubah isi kado itu.”
Setelah beberapa lama Oxcell meyakinkan bahwa bukan dirinya yang mengubah isi kado itu. Akhirnya Shania percaya juga dan Beby rasa memang bukan Oxcell yang merubah isi kado tersebut, melainkan orang yang iri terhadap hubungan mereka berdua. Yaa.. yang tak lain adalah Jessica. Itulah peeling yang ada di benak Beby. Firasat Beby memang selalu benar, tapi dia nggak mau suudzon dulu. Takut bukan Jessica yang melakukannya, ntar malah Tengsin.
Ternyata usaha Jessica belum sampai disini. Dia mempunyai rencana selanjutnya yang akan membuat mereka berdua bertengkar. Yaitu dengan cara meneror Shania yang isinya bahwa dia itu pernah dihamili oleh Oxcell saat pacaran dulu. Dan alhasil, Shania sangat marah besar saat mendapat teroran itu. Shania terkejut dan sangat kaget, karena bisa-bisanya Oxcell, orang yang dinilai baik oleh dirinya melakukan hal tidak senonoh seperti itu.
Ketika Oxcell ditanya tentang itu oleh Shania. Oxcell membantah mentah-mentah, yang ada Shania malah dituduh memfitnah dirinya. Karena mereka berdua sama-sama keras, tidak ada yang mau mengalah satu pun. Akhirnya mereka berdua break pacaran dulu sampai Shania bisa menenangkan dirinya. Tapi Oxcell menolak ajakan break itu, karena dia nggak mau lost contact dengan Shania.
Sudah hampir 3 minggu mereka break. Oxcell merasa nggak tahan, nggak bisa jauh dari Shania. Dia pun mengajak Shania agar hubungannya dilanjutkan kembali. Begitupun dengan Shania, dia pun mau melanjutkan hubungannya kembali dengan satu syarat nggak akan pernah ada masalah lagi di antara kita berdua, walaupun ada masalah kita harus bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Selang beberapa hari kembalinya hubungan mereka. Mereka dilanda masalah lagi yang benar-benar membuat mereka berdua putus. Yaitu, Jessica memberanikan diri datang ke tempat makan dimana Shania dan Oxcell sedang Dinner bareng. Tapi disaat Jessica menghampiri tempat duduk Oxcell dan Shania, kebetulan Shania lagi pergi ke toilet.
“Cell.”
“Lho, lo ngapain kesini?”
“Jujur Cell, gue itu masih sayang sama lo, gue nggak mau pisah sama lo. Gue juga suka cemburu kalau ngelihat lo berduaan sama Shania. Gue mau kita balikan lagi kaya dulu Cell!”
Oxcell hanya bengong mendengar ajakan untuk balikan dari Jessica. Kagetnya, di arah depan sana, Shania mendengarkan pembicaraan itu. Dia meresa sakit hati dan air matanya pun mulai menetes.
“Apakah aku harus merelakan Oxcell untuk Jessica?” Ucap Shania di dalam hati sambil meneteskan air matanya yang bening.
Dengan perlahan Shania beranjak mendekati Oxcell dan Jessica. Dan Shania memegang tangan mereka lalu menyatukannya layaknya orang yang sedang beromantisme.
“Cell, Jess, gue tahu kok, kalau kalian itu masih saling suka dan saling sayang. Gue ikhlas kok, kalian berdua balikan lagi. Kalian jangan mikirin nanti gimana gue. Nggak apa-apa kok, lagipula gue emang pingin sendiri. Gue pingin lebih focus belajar. Jadi nggak ada salahnya kalau kalian balikan.”
“Tapi Shan…”
“Udah nggak apa-apa Cell. Gue sekarang pamit ya! Gue ada urusan sama Beby. Gue tinggal ya kalian berdua. Dan lo Jess, jaga Oxcell baik-baik, jangan sampai Oxcell pindah ke lain hati untuk yang kesekian kalinya.”
Shania pergi sambil berlari kecil, tampak air matanya terurai membasahi pipinya yang manis. Sebenarnya dia nggak iklhas Jessica jadian dengan Oxcell, tapi apa boleh buat. Dia sudah cape dengan semua masalah yang selalu datang dari Jessica. Apalagi dia tahu kalau Oxcell masih sayang kepada Jessica, dilihat dari cara dia melihatnya, dan pada saat itu, saat Shania diberi kado ular. Bukannya Oxcell marah kepada Jessica, yang ada dia malah bilang jangan bahas masalah itu. Lupakan aja masalah itu. Padahal dia udah tahu kalau yang mengubah kado itu adalah mantannya sendiri.
Oke, Malam itu menjadi malam yang paling menyakitkan untuk Shania, dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta selama SMA ini. Udah cukup dia mencintai Cowok yang masih sayang kepada mantannya. Semua ini Cuma bikin dirinya sakit hati dan ngebantin terus-terusan.
“I Love You, Oxcell. I will remember you, always! :’)”
Lirik Lagu
One Republic - Secrets
I need another story
Aku butuh cerita lain
Something to get off my chest
Sesuatu yang bisa lepaskan bebanku
My life gets kinda boring
Hidupku mulai membosankan
Need something that I can confess
Butuh sesuatu yang bisa kuakui
'Til all my sleeves are stained red
Hingga seluruh lengan bajuku bernoda merah
II
From all the truth that I've said
Dari semua kebenaran yang sudah kukatakan
Come by it honestly I swear
Raihlah jujur ku bersumpah
Thought you saw me wink, no
(Kau) kira kau lihat aku berkedip, tidak
I've been on the brink, so
Aku sudah hampir, maka
III
Tell me what you want to hear
Katakanlah apa yang ingin kau dengar
Something that will light those ears
Sesuatu yang akan senangkan telingamu
Sick of all the insincere
Muak dengan semua kebohongan
So I'm gonna give all my secrets away
Makan akan kuungkap semua rahasiaku
IV
This time, don't need another perfect line
Kali ini, tak butuh kalimat sempurna
Don't care if critics ever jump in line
Tak peduli apakah kritikus akan mencerca
I'm gonna give all my secrets away
Kan kuungkap semua rahasiaku
V
My God, amazing how we got this far
Tuhanku, menakjubkan kita tlah sampai sejauh ini
It's like we're chasing all those stars
Seolah kita sedang mengejar semua bintang itu
Who's driving shiny big black cars
Yang mengendarai mobil hitam berkilauan
And everyday I see the news
Dan tiap hari kulihat berita
All the problems that we could solve
Semua masalah yang bisa kita atasi
VI
And when a situation rises
Dan ketika terjadi masalah
Just write it into an album
Tulislah di sebuah album
Singing straight to cold
Bernyanyilah tuk mendinginkan kepala
I don't really like my flow, no, so
Aku tak benar-benar suka uangku
Back to III, IV
Oh, got no reason, got not shame
Oh, tak punya alasan, tak punya rasa malu
Got no family I can blame
Tak punya keluarga yang bisa kusalahkan
Just don't let me disappear
Jangan biarkan aku menghilang
I'ma tell you everything
Kan kukatakan padamu segalanya
Back to III, IV (2x)
I need another story
Aku butuh cerita lain
Something to get off my chest
Sesuatu yang bisa lepaskan bebanku
My life gets kinda boring
Hidupku mulai membosankan
Need something that I can confess
Butuh sesuatu yang bisa kuakui
'Til all my sleeves are stained red
Hingga seluruh lengan bajuku bernoda merah
II
From all the truth that I've said
Dari semua kebenaran yang sudah kukatakan
Come by it honestly I swear
Raihlah jujur ku bersumpah
Thought you saw me wink, no
(Kau) kira kau lihat aku berkedip, tidak
I've been on the brink, so
Aku sudah hampir, maka
III
Tell me what you want to hear
Katakanlah apa yang ingin kau dengar
Something that will light those ears
Sesuatu yang akan senangkan telingamu
Sick of all the insincere
Muak dengan semua kebohongan
So I'm gonna give all my secrets away
Makan akan kuungkap semua rahasiaku
IV
This time, don't need another perfect line
Kali ini, tak butuh kalimat sempurna
Don't care if critics ever jump in line
Tak peduli apakah kritikus akan mencerca
I'm gonna give all my secrets away
Kan kuungkap semua rahasiaku
V
My God, amazing how we got this far
Tuhanku, menakjubkan kita tlah sampai sejauh ini
It's like we're chasing all those stars
Seolah kita sedang mengejar semua bintang itu
Who's driving shiny big black cars
Yang mengendarai mobil hitam berkilauan
And everyday I see the news
Dan tiap hari kulihat berita
All the problems that we could solve
Semua masalah yang bisa kita atasi
VI
And when a situation rises
Dan ketika terjadi masalah
Just write it into an album
Tulislah di sebuah album
Singing straight to cold
Bernyanyilah tuk mendinginkan kepala
I don't really like my flow, no, so
Aku tak benar-benar suka uangku
Back to III, IV
Oh, got no reason, got not shame
Oh, tak punya alasan, tak punya rasa malu
Got no family I can blame
Tak punya keluarga yang bisa kusalahkan
Just don't let me disappear
Jangan biarkan aku menghilang
I'ma tell you everything
Kan kukatakan padamu segalanya
Back to III, IV (2x)
Perkenalan
Heellowww test cek cek hm okee langsung ke inti pokok now!!
Hai guys kenalin namaku cintya novita hehe singkat kan cuman dua kata gampang diinget kok bahkan selamanya bisa diinget sampai tua ihirr
oke next, aku asli dari semarang kok hehe udah kan cuman itu perkenalannya? apalagiya? ohya tanggal lahir?
aku lahir ditanggal dibulan ditahun yang cantik, cantik bagiku maksutnya wkwk tanggal pertama dibulan november thnnya 1999 cantik kan :p
oke next saat ini ni aku masih 3 smp masih kecil bgt kan tapi engga kok habis ini udah mau pake putih abu abu hahahaha okeya finish ni cukup itu aja perkenalanku byeee *hugkiss*
Hai guys kenalin namaku cintya novita hehe singkat kan cuman dua kata gampang diinget kok bahkan selamanya bisa diinget sampai tua ihirr
oke next, aku asli dari semarang kok hehe udah kan cuman itu perkenalannya? apalagiya? ohya tanggal lahir?
aku lahir ditanggal dibulan ditahun yang cantik, cantik bagiku maksutnya wkwk tanggal pertama dibulan november thnnya 1999 cantik kan :p
oke next saat ini ni aku masih 3 smp masih kecil bgt kan tapi engga kok habis ini udah mau pake putih abu abu hahahaha okeya finish ni cukup itu aja perkenalanku byeee *hugkiss*
Balikan
Perempuan
itu buru-buru menyalakan kipas angin lalu menjatuhkan dirinya ke sofa,
kaki nya lemas, wajahnya memerah karena tersengat matahari, Cuaca di
luar memang panasnya keterlaluan membuat suasana gerah, bahkan hatinya
pun ikut gerah, karena selama tiga jam mondar-mandir di perpustakaan
kampus, menyusuri semua rak, tapi tak ia temukan buku referensi itu,
sampai akhirnya menyerah dan kembali ke apartemen nya.
“Makasih” pria itu tersenyum lagi.
“Halo..” pria itu mengangkat teleponya
“Iya tante, saya sudah ketemu sama dia, dan saya sudah tau di mana dia tinggal, dan saya akan membawanya pulang kerumah besok”
Sambil mengatur nafas, dia berbaring dan menatap langit-langit ruangan apartemennya itu. Hatinya terus berseru gelisah: Dimana
gua bisa dapetin buku itu? Kalo gini skripsi gua bakal molor lagi,
hah!! Nanti kena omelan dosen lagi kalo gini..bĂȘte..bete.
Tet..tet…tet…
Bunyi
bel itu membuatnya terbangun dari lamunannya. Dia menyeret kaki lemas
nya dengan malas menghampiri daun pintu, membuka nya sedikit dan
mengintip siapa yang ada di baliknya. Dia tersontak kaget seperti
melihat hantu, lalu mematung, rahangnya mengeras tak membalas senyuman
orang dibalik pintu itu.
“Boleh masuk kan?” pria itu berkata.
“Oke” Jawab perempuan itu dingin.
Dia
membuka pintunya lebih lebar, lalu berjalan menuju dapur memunggungi
tamunya tersebut. Pria itu melonggarkan ikatan dasinya terlihat
kepanasan. kipas angin di apartemen tua itu tak cukup berpengaruh
merekayasa udara panas di ruangan itu. Tak lebih dari 2 menit, perempuan
itu kembali berjalan menuju sofa, menyodorkan kaleng soda dingin pada
tamunya itu.
“Makasih” pria itu tersenyum lagi.
“Dari siapa kamu tau aku disini?”
“Aku liat kamu keluar dari gerbang kampus, lalu ku buntuti deh sampai disini.” Pria itu nyengir
Perempuan itu mendesis sebal “Sebenarnya mau kamu apa sih?!”
“Aku mau kita balikan” Pria itu berkata enteng lalu menikmati soda dinginnya.
Perempuan
itu langsung menarik nafas dalam, muak mendengar kata “Balikan”. Sudah
yang kedua kalinya tempat persembunyianya terbongkar, dan ini sudah ke
empat kalinya pria itu mengajaknya balikan. Perempuan itu benar-benar
muak, harus kemana lagi dia bersembunyi, menenangkan diri agar fokus
pada tugas akhirnya. Mengapa pria ini terus mengejarnya.
“Sudahlah, aku gak mau diganggu” Perempuan itu beranjak dari sofa.
“Aku kangen kamu!” Pria itu meraih tangan perempuan itu.
Perempuan
itu pun sama, tiap detik, tiap oksigen yang di hirupnya rasa kangen itu
selalu marasuk bersamaan dengan angin kedalam pori-pori, mengisi luka
menganga dalam dada, luka akibat kehilangan rasa percaya terhadap pria
itu.
Perempuan itu mengibaskan tangannya, kini mereka berdiri berhadapan “Please, aku pengen fokus ngerjain skripsiku!!”
“Selamanya kamu ga akan pernah fokus, karena yang ada dalam pikiran kamu cuma aku kan?!”
Benar
apa yang dikatakan pria itu, dirinya tidak pernah bisa fokus, gemuruh
dalam hatinya tak pernah padam menguasai pikirannya, bayangan kenangan
bersama pria itu tidak pernah absen mengganggu konsentrasinya, bahkan
menghantui dalam tidurnya. Semua itu bermuara dari rasa curiga dan
kecewa yang hebat akibat kilometer jarak antara mereka membuat
keparcayaan pada pria itu semakin krisis dan menipis dan prasangka
mengusainya seperti iblis.
Kini pikiran nya di penuhi pertanyaan: Apakah benar desas desus perselingkuhan itu hanya imajinasinya semata?
“Hari
ini, aku pindah ke kota ini, demi kamu. Aku tinggalkan semua karirku
disana dan akan memulainya dari awal disini. Supaya kamu percaya” pria
itu menatap matanya dalam.
Perempuan
itu menangis, pertahanan nya jebol, pria itu merengkuh nya, meraihnya
ke dalam pelukannya, sekujur badannya perempuan itu gemetar,bahu kemeja
pria itu basah karena air mata.
Pria
itu mengeratkan rengkuhanya, perempuan itupun melunak, tenggelam dalam
pelukan pria yang sangat dicintainya itu. Mereka merasakan panas tubuh
masing-masing, membuat suasana beku itu pun mencair dan menguap bersama
prasangka yang ada.
“Maafin
aku ya” pria itu melepaskan pelukannya, menempelkan keningnya ke kening
perempuan itu. “Pulanglah kerumah, ibu mu pasti khawatir, jangan
tinggal di apartemen butut ini lagi” lalu pria itu mengecup kening
perempuan itu.
∞∞∞
Pria
berkemeja abu-abu itu pun keluar dari apartemen, lalu berjalan menuju
parkiran sambil mengencangkan ikatan dasi di lehernya. Smartphone pria
itu pun berbunyi. Ada panggilan masuk.
“Halo..” pria itu mengangkat teleponya
“Iya tante, saya sudah ketemu sama dia, dan saya sudah tau di mana dia tinggal, dan saya akan membawanya pulang kerumah besok”
Pria itu berhenti berbicara dan hanya mengangguk-anggunk mendengarkan orang yang disebrang itu bericara.
“Baik, saya tunggu imbalan yang sudah tante janjikan” pria itu nyengir kegirangan dan menutup telepon nya.
Lalu pria itu mengetik pesan singkat ke salah satu nomer kontak yang ada di handphone-nya
“Sayang,
mungkin utk beberapa waktu kita gak bisa ketemu dulu, sampai skripsi
dia beres, semoga kmu ngerti, ini demi masa depan kita. I miss u and
love u always”
Rabu, 04 Juni 2014
Lirik Lagu
COLDPLAY - Fix You
When you try your best but you don't succeed
Saat kau berusaha sebaik-baiknya namun kau tak berhasil
When you get what you want but not what you need
Saat kau dapatkan yang kau inginkan namun tak kau butuhkan
When you feel so tired but you can't sleep
Saat kau merasa begitu lelah namun tak bisa terlelap
Stuck in reverse
Selalu terbayang masa lalu
And the tears come streaming down your face
Dan air mata mengalir di wajahmu
When you lose something you can't replace
Saat kau kehilangan sesuatu yang tak tergantikan
When you love someone but it goes to waste
Saat kau mencintai seseorang namun bertepuk sebelah tangan
Could it be worse?
Adakah yang lebih buruk dari itu?
CHORUS
Lights will guide you home
Cahaya 'kan mengantarmu pulang
And ignite your bones
Dan menyulut belulangmu
And I will try to fix you
Dan aku kan berusaha membenahimu
And high up above or down below
When you're too in love to let it go
Saat kau terlalu cinta dan tak bisa melepaskannya
But if you never try you'll never know
Namun jika tak pernah mencoba kau takkan pernah tahu
Just what you're worth
Betapa berharga dirimu
CHORUS
Tears stream down your face
Air mata mengalir di wajahmu
when you lose something you cannot replace
Saat kau kehilangan sesuatu yang tak tergantikan
Tears stream down your face
Air mata mengalir di wajahmu
And I
Dan aku
Tears stream down your face
Air mata mengalir di wajahmu
I promise you I will learn from my mistakes
Janjiku padamu aku kan belajar dari kesalahanku
Tears stream down your face
Air mata mengalir di wajahmu
And I
Dan aku
Langganan:
Postingan (Atom)