Gadis cantik, tinggi, putih, pintar dan memiliki rambut yang amat
indah untuk dilihat. Matanya yang selalu tersenyum dengan tahi lalat
yang ada di dagu sebelah kanan yang membuat dia semakin terlihat cantik
dan manis pula. Gadis itu bernama Shania Anastasya yang masih duduk di
bangku SMA kelas 2.
Tadi gue udah bilang, dia emang cantik, baik hati, nan disiplin pula.
Tapi dengan semua kesempurnaan dia, dia selalu gagal dalam hal bercinta.
Kenapa?
Begini ceritanya, cekidot!
Pagi itu terasa sejuk sehingga membuat Shania bangun lebih pagi
karena dia ada janji untuk mengerjakan tugas kimia yang sangat sulit
untuk dikerjakan sendiri. Tepat pukul 06.10 Shania pergi ke Sekolah
menggunakan Jazz merah kesayangannya. Itu adalah modal Shania agar
terlihat lebih keren, apalagi sekarang dia sedang jatuh cinta kepada
seseorang yang sama sekali tidak diketahui oleh karibnya, Beby.
“Shan!”
“Eh Beb, lo udah datang dari tadi?”
“Iya, gue nunggu lo dari tadi jam 6 tahu! Lo lama banget sih! Katanya
mau ngerjain tugas kimia, buruan bukunya keluarin!” Pinta Beby.
“Sabar dong, gue kan baru datang, bukannya disambut dengan senyum lo
malah ngemeng mulu. Berisik tahu!” Jawab Shania dengan bibir manyun.
Di Kelas, Beby mengajarkan tugas kimia kepada Shania, mereka berdua
adalah karib dari semenjak SMP dan sampai sekarang, bahkan Beby dan
Shania selalu dibilang mirip oleh teman yang lain. Tapi ternyata bukan
hanya teman mereka saja, guru-guru pun banyak yang bilang mereka mirip
alias kembar. Secara kan mereka itu sama-sama tinggi, model rambutnya
sama, disiplin, cantik, putih, hidungnya mancung dan matanya pun hampir
sama. Jadi ya wajar kalau mereka disebut kembaran sejoli.
Saat istirahat pertama seperti biasa mereka selalu pergi berdua ke
Kantin. Selama makan di Kantin, Shania cengengesan mulu sendiri sehingga
membuat Beby penasaran tingkat dewa. Lebay.
“Shan!”
“Shaniaa.”
“Shan lo nggak apa-apa kan?”
Udah tiga kali Beby manggil Shania tapi tidak ada jawaban sama sekali,
mungkin Shania masih asik dengan bayangan yang ada di benaknya.
“Shania lo gila!!” Teriak Beby yang membuat semua siswa yang ada di Kantin menoleh ke arah dirinya.
“Hah? Apaan sih lo beb, nggak sopan teriak gue gila. Malu tahu! Lo mikir
dong disini itu banyak orang dan lo juga mikir disini itu ada cowok
yang gue suka *ehh.” Tanpa sadar, Shania keceplosan bilang bahwa di
Kantin ada cowok yang ia sukai.
“Apa? Cowok yang lo suka? Siapa? Kok lo nggak bilang-bilang sama gue, lo
mau coba rahasia-rahasian sama gue. Lo kok gitu sih, jahat banget nggak
mau cerita ke gue. Nih ya kalau lo suka sama seseorang itu jangan
dipendam, ntar malah makan hati lo. Hahaha,” Ledek Beby.
“Udah ngomongnya? Dengerin dulu deh! Mm.. tapi lo jangan bilang
siapa-siapa ya! Ini Cuma rahasia kita berdua, gue sebenarnya suka sama
si itu tuh.” Jawab Shania sambil menunjuk ke arah cowok yang disukainya.
“Haa?? Itu.. itu kan si Oxcell? Haha, cie-cie Shania jatuh cinta sama
Oxcell. Oke, gue dukung deh semoga lo bisa jadian sama dia!”
“Amin Beb, makasih ya lo selalu dukung gue.” Ucap Shania sambil memeluk Sahabatnya, Beby.
Bel berbunyi pertanda waktu istirahat sudah habis. Mereka kembali ke Kelasnya masing-masing.
Selama di Kelas Shania lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
memikirkan Oxcell ketimbang memperhatikan pelajaran Bu Nia, memang
Shania agak kurang suka dengan pelajarannya, yaitu pelajaran kimia.
Pantas aja kalau Shania agak nggak bisa kalau dikasih tugas Kimia. Dia
kan jagonya di Matematika dan IPS aja, untuk pelajaran yang lainnya dia
biasa-biasa aja.
Disaat Shania terlenyap dalam khayalannya, tiba-tiba ada yang
mengalung kertas kepada dirinya. Dan ternyata itu adalah Bu Nia,
disitulah Shania merasa terkejut sekali dan gugup entah kemana.
“Shania! Sudah beberapa kali ini, setiap pelajaran ibu kamu tidak pernah
memperhatikan! Ibu tahu kamu memang pintar dalam pelajaran Matematika,
tapi tidak seharusnya juga kamu meremehkan pelajaran Ibu! Ibu tidak
suka!”
“Astaga.. Bu, maafkan Shania Bu! Shania nggak bermaksud buat meremehkan
pelajaran ibu. Shania hanya lagi banyak pikiran Bu! Sekali lagi maaf
Bu.” Shania memelas.
“Dia kan Gila Bu!”
Tiba-tiba dari arah bangku bagian depan, ada yang meledek Shania, dia
adalah Jessica. Cewek yang terkenal kaya dan sombong, yang kerjanya Cuma
merendahkan rakyat kecil. Disaat situasi sedang tegang oleh marahnya Bu
Nia, dia malah ikut-ikutan. Sehingga membuat Shania marah.
“Maksud lo apa? Bilang gue gila! Hah?” Teriak Shania dari bangku paling belakang.
“Eittt.. Biasa aja kali non! Nggak usah marah sambil teriak gitu ntar
cepat tua, baru tahu rasa lo.” Ledek Jessica yang semakin membuat Shania
emosi.
“Cukup, cukup, cukup!!! Kenapa jadi bertengkar seperti ini? Apakah Ibu
menyuruh kalian untuk bertengkar? Tidak kan? Oke, daripada kelas ini
menjadi tidak tentram gara-gara kalian, sekarang kalian keluar kelas dan
berdiri di depan tiang Bendera sampai jam pelajaran ibu selesai!”
Shania dan Jessica mencoba memohon agar tidak dihukum, tapi tetap saja Bu Nia menyuruh mereka untuk keluar.
Di luar Sekolah cukup hening dan sepi karena semua siswa sedang
melaksanakan kegiatan belajar, mungkin di Luar hanya ada mereka berdua
dan petugas sekolah yang sedang menyapu halaman Sekolah. Cukup sulit
dikira, cewek pintar seperti Shania, yang banyak dijuluki sebagai anak
yang disiplin, sekarang dia malah dihukum di tengah lapang. Nggak habis
pikir, dia terus menerus mengeluh di depan tiang bendera karena dia
merasa sangat malu, apalagi kalau dilihat sama cowok idamannya, Oxcell.
Sedangkan Jessica malah asik bermain Blackbarynya, sambil mendengarkan
musik menggunakan headphone lucu miliknya. Sesekali dia melirik Shania,
dia hanya tertawa sinis karena dia sangat menginginkan anak yang
dijuluki disiplin itu nama baiknya turun.
Jessica memang sangat tidak suka kepada Shania dari semenjak SMP.
Padahal mereka itu adalah sahabat karib bersama Beby, bahkan mereka
mempunyai nama julukan persahabatannya, yaitu JeEsBy yang singkatan dari
Jessica Shania Beby. Tapi sungguh disayangkan persahabatan mereka
tiba-tiba bubar gara-gara cowok yang disukai Jessica malah suka sama
Shania, dan Beby lebih mendukung ke Shania ketimbang Jessica. Jadi
begitulah, sampai sekarang Jessica menyimpan rasa benci kepada Shania
dan Beby.
Di tengah panasanya matahari, Shania semakin gelisah karena merasa
kepanasan dan gerah sekali. Keringatnya pun bercucuran. Tapi disaat
itulah tiba-tiba ada cowok yang menepuk pundak Shania. Tanpa disangka,
OMG.. dia adalah cowok idamannya, Oxcell.
Bukan kaget biasa, dia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari
biasanya layaknya orang yang udah dikejar sama anjing. Haha Lebay!
“Hei Shan!” Sapa cowok ganteng yang mirip dengan AL anaknya Ahmad Dhani.
“I.. i.. iya?” Jawab Shania dengan muka penuh rasa malu dan gugup.
“Biasa aja tuh muka, jangan gugup gitu! Kaya yang lihat siapa aja.”
“Hehe lo Cell, ada apa?”
“Nggak, Cuma mau nemenin lo aja disini.”
“Kok mau nemenin gue sih? Gue kan lagi dihukum!”
“Nggak apa-apa, biar hukuman lo agak lebih ringan ditemenin orang cakep kaya gue.” Ucap Oxcell dengan gaya so’ kerennya.
“Ah lo PD banget, tapi kayanya gue mau kembali ke Kelas deh, soalnya gue
dihukum sampai jam pelajaran Bu Nia selesai. Nah, sekarang kan udah
selesai. Jadi gue mau balik ke Kelas ya.. sorry gue udah gerah banget
nih! Jadi haus pengen minum. Duluan ya!” Jawab Shania sambil berlari,
tersenyum malu, deg-degan, yaa pokonya campur aduk deh hatinya Shania.
Di lapangan itu masih ada Jessica. Jessica yang tidak mendengar bel
pergantian pelajaran, dia masih asik dengan BB dan Musiknya. Sehingga
membuat Oxcell menepuk pundak Jessica.
“Jess!”
“Jessi.”
“Jessica Natalia!” Untuk yang ketiga kalinya, suara Oxcell diperbesar
agar bisa didengar oleh Jessica yang sedang mendengarkan musik.
“Eh iya app…”
“Lho, Oxcell, lo ngapain disini? Terus, mana si Shaniot? Kok ilang, apa
dia sakit atau pingsan atau juga mati gara-gara berdiri 1 jam di
lapangan?” Bacotan Jessica mulai muncul di depan Oxcell.
“Berisik lo! Shania udah masuk ke Kelas soalnya waktu hukumannya udah habis.”
“Oh ya? Tapi nggak apa-apa deh, gue malas ke kelas, soalnya sekarang
bagian pelajaran Bu Herna! Guru Ekonomi yang bisanya Cuma rampas BB
gue!”
“Haha benar tuh! Eh eh mending kita duduk di kursi itu aja yuk! Panas disini.”
“Oke ayo!”
Sesampainya mereka di tempat duduk, Jessica malah ngajak Oxcell
flashback. Iya Flashback, jadi gini.. Oxcell itu adalah masa lalunya
Jessica, dan lagi-lagi mereka putus gara-gara Oxcell naksir kepada
Shania.
Dulu waktu SMP sih, Shania banyak yang naksir karena dia itu murid baru.
Tapi waktu SMP Shania cuek banget sama yang namanya cinta, entah
kenapa. Mungkin waktu di SMP yang lama, dia pernah mengalami hal yang
tidak mengenakan dalam hal bercinta. Tapi sekarang dia udah bisa Move On
kok, dan mulai mencintai seorang laki-laki kembali.
“Cell, Kenapa sih dulu kita putus?”
“Nggak tahu!”
“Ih kok lo cuek banget! Emang lo nggak ada pikiran buat balikan lagi sama gue?”
“Apa? Balikan lagi? Sorry aja, gue udah suka sama yang lain!”
“Siapa? Jangan bilang kalau dia itu SHANIA?”
“Emang! Gue sampai sekarang masih suka sama Shania!”
“Apa? Lo suka sama Shania??” Tiba-tiba dari arah sebelah kanan Oxcell
ada cewek cantik yang menghampiri dan nggak sengaja mendengar perkataan
Oxcell tentang Shania, dia adalah Beby karibnya Shania.
“Eh lo beb! Ngapain lo disini?” Jawab Oxcell dengan penuh rasa kaget dan gugup.
“Gue habis dari depan! Habis fotocopy tugas Bu Herna. Lo kenapa nggak masuk kelas? Lo mau dikeluarin sama gue? Hah?”
“Ih beb galak banget lo, mentang-mentang jadi ketua kelas jadi seenaknya ngeluarin gue.”
“Ya udah makannya cepat masuk kelas! Bu Hernanya juga udah keluar, dia ada urusan sama keluarganya, jadi dikasih tugas!”
“Oh ya udah deh yuk!”
Jessica hanya bengong melihat Beby dan Oxcell, dia merasa seperti kacang
yang lupa kulitnya. Kalau udah nggak perlu langsung ditinggal begitu
aja. Tapi bukannya Jessica masuk kelas dia malah melanjutkan BBM-an
bersama gebetan yang ia yakini bisa membuat dirinya Move On dari Oxcell.
Kegiatan belajar mengajar sudah habis. Seperti hari-hari biasa, Beby
selalu nebeng pulang kepada Shania. Tapi kali ini Beby nggak langsung
pulang dia mau main dulu ke Rumah Shania, dan Shania sama sekali tidak
keberatan Beby main ke rumahnya.
Selama di dalam mobil, Beby menceritakan semua tentang perkataan
Oxcell tentang Shania. Bahwa Oxcell juga suka sama Shania, tapi dia
menyembunyikan perasaan itu karena takut Shania nggak suka balik kepada
Oxcell. Alhasil, setelah Beby menceritakan itu semua, Shania merasa
ngefly, hati dia nggak karuan, deg-degan terus-terussan.
“Cell, lo beneran suka kan sama Shania?” Tanya Beby kepada Oxcell di dalam Kelas.
“Bukan Cuma sekedar suka, gue Cinta juga sama dia!”
“Kalau emang lo cinta sama dia, kenapa gak jadian aja coba? Lo kan
cowok, gentle dong! Jangan ngurusin diterima atau nggaknya, tapi nyoba
dulu.. kali aja Shania juga suka sama lo. Hmm, gue sih Cuma kasih saran
buat lo.”
“Oh oke deh, gue akan coba deketin dia, ya itung-itung pdkt gitu. Haha, oh ya, boleh dong gue minta nomor Hpnya dia!”
“Oh oke, Nih! Gue doain ya, semoga pdktnya sukses dan bisa jadian.” Jawab Beby sambil pergi berlari kecil ke Luar.
Setelah beberapa hari. Oxcell dan Shania berhasil pdkt sampai jadian.
Shania menceritakan semua kesenangan dia kepada karibnya, Beby. Dan
Beby pun ikut senang atas hari jadian mereka. Tapi, tetap aja ada yang
iri mereka jadian, siapa lagi kalau bukan Jessica. Jelas aja dia iri
banget, secara dia kan mantannya dan sampai sekarang masih belum bisa
MoveOn. Cowok yang dikira Jessica akan bisa membuat dirinya MoveOn,
malah cowok itu udah punya pacar duluan.
Semua hari Shania dan Oxcell dilewati dengan penuh warna, bahkan
belajarnya lebih semangat dari hari biasanya. Yang biasanya disaat
pelajaran Kimia Shania suka tidur atau melamun, sekarang dia menjadi
lebih rajin dan selalu mendapatkan acc dari Bu Nia. Sebaliknya, Oxcell
pun menjadi lebih giat belajar dalam pelajaran Ekonomi.
Karena setiap harinya Jessica selalu melihat Shania dan Oxcell berdua
terus di Sekolah. Jessica nggak bisa tinggal diam. Dia berencana untuk
menghancurkan hubungan mereka. Dengan cara apapun, dia akan terus
berusaha agar mereka berdua putus. Dan Oxcell bisa menjadi miliknya
kembali.
Hingga suatu ketika, disaat anniversary 1 month Shania Oxcell,
kejutan yang diberikan Oxcell kepada Shania, di dalamnya berubah menjadi
seekor ular. Semua itu yang merubahnya yang tak lain adalah Jessica,
dia memang keterlaluan sekali. Apalagi Shania sangat phobia terhadap
ular. Jadi disaat Shania membuka kado tersebut, bukan main kaget. Shania
sampai pingsan dan dibawa ke UKS, dia merasa ketakutan sekali, tapi
Oxcell dan Beby berusaha menenangkannya.
Saat beberapa menit kemudian, Shania siuman.
“Sayang kamu nggak apa-apa kan?” Tanya Oxcell dengan penuh rasa cemas.
“Nggak kok!”
“Maksud kamu apa sih! Ngasih aku kejutan yang benar-benar nggak layak untuk diterima.”
“Sumpah! Itu bukan kado dari aku Shan. Aku nggak berani lah ngasih kado
gituan buat kamu. Demi apapun bukan aku yang ngubah isi kado itu.”
Setelah beberapa lama Oxcell meyakinkan bahwa bukan dirinya yang
mengubah isi kado itu. Akhirnya Shania percaya juga dan Beby rasa memang
bukan Oxcell yang merubah isi kado tersebut, melainkan orang yang iri
terhadap hubungan mereka berdua. Yaa.. yang tak lain adalah Jessica.
Itulah peeling yang ada di benak Beby. Firasat Beby memang selalu benar,
tapi dia nggak mau suudzon dulu. Takut bukan Jessica yang melakukannya,
ntar malah Tengsin.
Ternyata usaha Jessica belum sampai disini. Dia mempunyai rencana
selanjutnya yang akan membuat mereka berdua bertengkar. Yaitu dengan
cara meneror Shania yang isinya bahwa dia itu pernah dihamili oleh
Oxcell saat pacaran dulu. Dan alhasil, Shania sangat marah besar saat
mendapat teroran itu. Shania terkejut dan sangat kaget, karena
bisa-bisanya Oxcell, orang yang dinilai baik oleh dirinya melakukan hal
tidak senonoh seperti itu.
Ketika Oxcell ditanya tentang itu oleh Shania. Oxcell membantah
mentah-mentah, yang ada Shania malah dituduh memfitnah dirinya. Karena
mereka berdua sama-sama keras, tidak ada yang mau mengalah satu pun.
Akhirnya mereka berdua break pacaran dulu sampai Shania bisa menenangkan
dirinya. Tapi Oxcell menolak ajakan break itu, karena dia nggak mau
lost contact dengan Shania.
Sudah hampir 3 minggu mereka break. Oxcell merasa nggak tahan, nggak
bisa jauh dari Shania. Dia pun mengajak Shania agar hubungannya
dilanjutkan kembali. Begitupun dengan Shania, dia pun mau melanjutkan
hubungannya kembali dengan satu syarat nggak akan pernah ada masalah
lagi di antara kita berdua, walaupun ada masalah kita harus bisa
menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Selang beberapa hari kembalinya hubungan mereka. Mereka dilanda
masalah lagi yang benar-benar membuat mereka berdua putus. Yaitu,
Jessica memberanikan diri datang ke tempat makan dimana Shania dan
Oxcell sedang Dinner bareng. Tapi disaat Jessica menghampiri tempat
duduk Oxcell dan Shania, kebetulan Shania lagi pergi ke toilet.
“Cell.”
“Lho, lo ngapain kesini?”
“Jujur Cell, gue itu masih sayang sama lo, gue nggak mau pisah sama lo.
Gue juga suka cemburu kalau ngelihat lo berduaan sama Shania. Gue mau
kita balikan lagi kaya dulu Cell!”
Oxcell hanya bengong mendengar ajakan untuk balikan dari Jessica.
Kagetnya, di arah depan sana, Shania mendengarkan pembicaraan itu. Dia
meresa sakit hati dan air matanya pun mulai menetes.
“Apakah aku harus merelakan Oxcell untuk Jessica?” Ucap Shania di dalam hati sambil meneteskan air matanya yang bening.
Dengan perlahan Shania beranjak mendekati Oxcell dan Jessica. Dan
Shania memegang tangan mereka lalu menyatukannya layaknya orang yang
sedang beromantisme.
“Cell, Jess, gue tahu kok, kalau kalian itu masih saling suka dan saling
sayang. Gue ikhlas kok, kalian berdua balikan lagi. Kalian jangan
mikirin nanti gimana gue. Nggak apa-apa kok, lagipula gue emang pingin
sendiri. Gue pingin lebih focus belajar. Jadi nggak ada salahnya kalau
kalian balikan.”
“Tapi Shan…”
“Udah nggak apa-apa Cell. Gue sekarang pamit ya! Gue ada urusan sama
Beby. Gue tinggal ya kalian berdua. Dan lo Jess, jaga Oxcell baik-baik,
jangan sampai Oxcell pindah ke lain hati untuk yang kesekian kalinya.”
Shania pergi sambil berlari kecil, tampak air matanya terurai
membasahi pipinya yang manis. Sebenarnya dia nggak iklhas Jessica jadian
dengan Oxcell, tapi apa boleh buat. Dia sudah cape dengan semua masalah
yang selalu datang dari Jessica. Apalagi dia tahu kalau Oxcell masih
sayang kepada Jessica, dilihat dari cara dia melihatnya, dan pada saat
itu, saat Shania diberi kado ular. Bukannya Oxcell marah kepada Jessica,
yang ada dia malah bilang jangan bahas masalah itu. Lupakan aja masalah
itu. Padahal dia udah tahu kalau yang mengubah kado itu adalah
mantannya sendiri.
Oke, Malam itu menjadi malam yang paling menyakitkan untuk Shania,
dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta selama SMA ini. Udah cukup
dia mencintai Cowok yang masih sayang kepada mantannya. Semua ini Cuma
bikin dirinya sakit hati dan ngebantin terus-terusan.
“I Love You, Oxcell. I will remember you, always! :’)”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar